Semua ilmu yang dimiliki makhluq hidup di bumi dan di langit adalah
ajaran dari Allah swt, termasuk ilmu yang dimiliki oleh manusia. Dengan
demikian, kita katakan bahwa semua ilmu yang dimiliki oleh manusia
pada hakekatnya adalah Ilmu Laduni, yaitu ilmu yang berasal dari Allah swt . Timbul
suatu pertanyaan, apa sebenarnya hakikat ilmu laduni menurut pandangan
Islam ? apakah seperti yang sering di pahami orang-orang sufi selama ini
atau ada arti lain yang lebih benar.
Pengertian Ilmu Laduni
Menurut Abu Hamzah As-Sanuwi, Ilmu
laduni dalam pengertian umum terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ilmu
yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua, ilmu yang didapat karena
belajar (kasbiy).
Bagian pertama :
Bagian pertama ini, terbagi menjadi dua macam:
1. Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang
perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan
Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah
maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu
yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi
kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk
yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman tentang Khidhir:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا“
Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat
dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi
Kami.” (Al-Kahfi: 65)
Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam:
“Sesungguhnya aku berada di atas sebuah
ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak
mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah
yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.”
Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak
kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf sampai
datang ajal kematiannya.
2. Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu
tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya
tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada
hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih.
Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan
dikenal dengan julukan “ilmu laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat
ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu
syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun
kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah
atau mengurangi.
Bagian Kedua :
Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah
yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha)
seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan
lain sebagainya.
Dari ketiga ilmu ini (syari’at, ma’rifat
dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu
ilmu syari’at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak
dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu
laduni di dalam Islam.